Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

PUISI : Aku Cinta Padamu Full

Posted by Unknown Jumat, 11 November 2011 0 komentar
Terasa berat bila ku ucap “aku benci kau, cah ayu!”
Dari lisan yang tertatar
Sungguh…
Karena aku cinta padamu full
Seperti waktu penjual premium di SPBU itu bertanya, “full?”
Tanpa ragu ku jawab, “ya full”
Tapi fullnya premium dalam tangki motorku
tak akan mampu mengalahkan cintaku padamu
Sungguh….
Sekali lagi, I love you full
Bukan untuk mbak Ul
Tapi untuk kau, cah ayu, muhibbatul yang beautiful
Pasti…
Kepastiannya tak perlu diragu lagi
Jika padamu full, oh… pujaan hati
Yakin…
Padamu sampai akhir nanti

PUISI : Jika Tiba Giliranku

Posted by Unknown Kamis, 10 November 2011 2 komentar
Jika tiba giliranku
Ku tak ingin kau menghitung waktu
Satu, dua, tiga sampai tujuh
Empat puluh
Seratus
Atau pun seribu
Jika tiba giliranku
Ku ingin kau lunasi sangkutanku
Pada sanak, kerabat, tetangga, dan kolegaku
Dengan simpanan keringatku dulu
Dan tabungan air mataku lalu
Kalau perlu gadaikan juga dua pusaraku
Sampai malaikat tersenyum padaku
JIka tiba giliranku
Ku ingin aliran doa mu
Dari bibirmu yang indah
Yang ikhlas dalam dada
Maka Insya’Allah kelak kita
Bertemu dalam surga-Nya
Semoga…

PUISI : Ku Nikmati Saja Hidup

Posted by Unknown 1 komentar
Tak ingin ku mengeluh, “cuah...!!!”
Pada nasib yang ditulis
Pada takdir yang digaris
Atau qadhar yang dipancar
Tak ingin ku mengeluh, “cuah...!!!”
Ku nikmati saja hidup
Seperti air mengalir tanpa curiga
Dari hulu pasti ke muara
Meski pahit terkadang ku rasa
Tak menyurutkan langka
‘tuk selalu berkarya
Tak ingin ku mengeluh, “cuah...!!!”
Ku nikmati saja hidup
Tanpa sungkan
Walau berkeringat
Hingga terurai air mata
Tak ingin ku mengeluh, “cuah...!!!”
Tapi, kenapa...
Terkadang keluh membersit
Menyesakan dada
Perih... seperti luka?
Tak ingin ku mengeluh, “cuah...!!!”
Ku nikmati saja hidup
Sembari bersandar pada-Nya
Hingga batas usia

PUISI : Musim Dingin, Musim Kawin

Posted by Unknown 1 komentar
Matahari tampak kelelahan
Tak mampu mengurung mendung dalam kecerahan
Tak kuasa membendung angin dalam keceriaan
Hujan pun iba,
Tanpa diundang...
Menyapa bumi yang lama kepanasan
Hingga tak mampu menahan kedinginan
            Bumi  pun menggigil
Tapi para pengantin bumi tertawa riang
Berharap ikrar suci dapat dikumandangkan
Di musim dingin, musim kawin ini
Dan...
Harapan itu terkabulkan
Segera kertas bertuliskan “Undangan” dilayangkan
Pada sanak, kerabat, dan teman seperjuangan
Berharap pula amplop dan doa berdatangan
Di musim dingin, musim kawin ini
Para pengantin bumi ikrarkan “Qobiltu...”
dengan senyuman
Di musim dingin, musim kawin ini
Para pengantin bumi berlomba sempurnakan keimanan

PUISI : Terima Kasih, Bunda...

Posted by Unknown Minggu, 16 Oktober 2011 0 komentar
Bunda…
Ku menjajar kata ini, untukmu…
Ku pilihkan kata agar bermakna,
ya…hanya untukmu, istri juga ibu bagi anak kita

Bunda…
Tiga Januari dua ribu tujuh lalu
Ku pinang kau dengan senyuman
Berbulan-bulan kita lalui, bersama….
Terkadang suka, tapi terselip juga duka

Bunda…
Sembilan bulan mengandung beban
Tak jarang perih mendera yang tak akan mampu ku rasakan
Tujuh belas Januari dua ribu delapan silam
Menguras keringat, air mata dan taruhan nyawa
Antara kematian dan lanjutnya kehidupan.
Ku hanya mampu menunggu pasrah dengan penuh kecemasan

Bunda…
Keringat, air mata dan nyawa itu terbayarkan
Dengan tangisan amanat Tuhan
Si kecil… cantik, lucu dan mungil
Lalu ku gendongnya
Dan ku bisikan adzan dan iqomah

Bunda…
Ini buah hati kita
Si kecil… cantik, lucu dan mungil itu
Ku titip, Bunda…
Rawatlah dengan Bismillah
Layani dengan ASI
Kelak…
Ajari aba, ta, tsa…
Kalau perlu Al Fatihah
Ajari A, B, C, D…
Ajari pula satu, dua, tiga…
Kalau perlu one, two, three…
Juga kenalkan dengan Tuhannya

Oh ya, Bunda…
Aku hampir lupa “Terima kasih”, ya?
Aku tak ‘kan mungkin berpaling

Bumi Gresik, 03 Januari 2009

Rifaus El-Husna As-Shahrukhany

PUISI : Tuan, Bolehkah Aku Singgah Sejenak?

Posted by Unknown Kamis, 13 Oktober 2011 0 komentar
Tuan…
Singgasanamu kian megah
Beratapkan duka
Berlantaikan luka
Dan..
Bertembokkan derita

Tuan…
Singgasanamu kian indah
Ditopang cinta
Disangga asmara
Tapi dibalut dengan air mata

Tuan…
Bolehkah aku singgah?
Sejenak saja?
Sekedar melepas lelah dan sengsara?

Bumi Gresik, 14 Oktober 2011

Rifaus El-Husna As-Shahrukhany

PUISI : Dan... Biarkan Aku Jauh

Posted by Unknown 0 komentar
Dan…
Biarkan matamu sinis memandangku

Dan…
Biarkan mulutmu leluasa meludahiku

Dan…
Biarkan tanganmu keras menamparku

Dan…
Biarkan kakimu menginjak dan menendangku

Dan…
Biarkan aku jauh
‘tuk kekalkan singgasanamu


Kini…
Leluasalah untuk tertawa…
Tapi…..
Suatu saat, kau ‘kan tutup usia
Dan….
Tuhan menyodorkan rapor-Nya

Bumi Gresik, 14 Oktober 2011

Rifaus El-Husna As-Syahrukhany

PUISI : Bukan Berarti Aku Adalah Kamu

Posted by Unknown 0 komentar
Aku adalah debu
yang mudah tersapu angin

Aku adalah angin
Namun tak mampu memberi kesejukan

Aku adalah air
Namun tak mampu melepas dahaga

Aku adalah makanan
Namun tak mampu mengenyangkan

Aku adalah mawar
Namun tak mampu menebar keharuman

Aku adalah mentari
Namun tak mampu menerangi

Aku adalah api
Namun tak mampu memberi kehangatan

Dan...
Bukan berarti aku adalah kamu


Bumi Gresik, 13/10/2011

Rifaus El-Husna As-Shahrukhany

PUISI : Kita Orang Cilik

Posted by Unknown Rabu, 12 Oktober 2011 0 komentar

(Menyadarkan kembali yang belum kembali)


Kita orang cilik
Tak akan mampu berkutik
Dari kejamnya politik
Yang semakin lama semakin menggelitik

Kita orang cilik
Adalah serbuk-serbuk jalanan
Mudah dihempas angin dan gelombang

Kita orang cilik
Mampunya cuma

Kita orang cilik
Mampunya cuma melihat,
Namun…
Tidak dengan mata

Kita orang cilik
Mampunya cuma mendengar,
Namun…
Tidak dengan telinga

Kita orang cilik
Mampunya cuma menampar
Namun…
tidak dengan tangan.

Kita orang cilik
Mampunya cuma menampar
Lewat kata yang dijajar

Bumi Gresik, 13 Oktober 2011

Rifaus El-Husna As-Shahrukhany

PUISI : Maaf Sepertimu Aku Tak Akan Mampu

Posted by Unknown 0 komentar
Maaf….
Sepertimu aku tak akan mampu
Ku tak punya nyali tuk korupsi

Maaf…
Sepertimu aku tak akan mampu
Ku tak punya nyali tuk kolusi

Maaf…
Sepertimu aku tak akan mampu
Ku tak punya nyali tuk nepotisme

Maaf…
Sekali lagi maaf….
Sepertimu aku tak akan mampu

Bumi Gresik, 12 Oktober 2011

Rifaus El-Shahrukhany

free counters